Senin , 20 September 2021

Kemkop dan UKM Identifikasi KUMKM yang Terdampak Pandemi Covid-19

Jakarta, Beritasatu.com – Merebaknya penyebaran virus corona atau Covid-19 sangat berdampak bagi para pelaku usaha, khususnya koperasi usaha mikro kecil dan menengah (KUMKM).

Untuk itu, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi (Kemkop) dan UKM, Victoria br. Simanungkalit, Kamis (16/4/2020), mengatakan, Kemkop dan UKM melakukan identifikasi KUMKM terdampak melalui call center, recovery dengan berbagai program stimulus, serta development program setelah recovery.

Berdasarkan hasil identifikasi, kata dia, masalah yang dihadapi oleh KUMKM selama pandemik Covid-19 ini antara lain penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, distribusi terhambat, permodalan dan produksi menurun.

Mengantisipasi hal tersebut, kata dia, Kemkop dan UKM telah melakukan mitigasi bagi KUMKM terdampak Covid-19 dengan beberapa inisiasi, seperti, pertama, stimulus daya beli produk UMKM/koperasi.

Kedua, bantuan langsung tunai usaha ultra mikro dan mikro. Ketiga, restrukturisasi dan subsidi suku bunga kredit usaha mikro. Keempat, restrukturisasi kredit untuk koperasi melalui Lembaga Penyalur Dana Bergulir (LPDB).

Kelima, belanja di warung tetangga. Keenam, kartu prakerja. Ketujuh, relaksasi pajak. Kedelapan, masker untuk semua. Kesembilan, BUMN sebagai offtaker produk pangan dan bahan pokok.

Kementerian Koperasi (Kemkop) dan UKM juga menghimbau kepada para pelaku KUMKM untuk mengikuti protokol social distancing, namun tetap menjalankan aktivitas produksi untuk bertahan hidup.

Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan pasien Covid-19 dan pemenuhan permintaan pasar terhadap produk APD, para KUMKM banting setir memproduksi APD berupa coverall bagi tenaga medis serta masker dan handsanitizer bagi masyarakat umum.

Sehubungan dengan hal tersebut, Kemkop dan UKM terus mendorong para pelaku usaha khususnya KUMKM yang memproduksi APD, masker dan handsanitizer dalam membantu pemenuhan kebutuhan produk tersebut di dalam negeri.

Victoria mengatakan, sampai saat ini ada sebanyak 330 UMKM yang sudah dan sedang serta terus memproduksi APD. “Ke-330 UMKM ini tersebar di 16 provinsi, namun kami mau masifkan produksinya untuk kebutuhan wilayah Jabodetabek,” kata dia.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menyatakan, Kemkop dan UKM telah menjalin komitmen dengan berbagai pihak untuk memastikan ketersediaan bahan baku, standarisasi produk, dan akses pemasaran produk KUMKM dimaksud.

Salah satu yang telah dilakukan adalah melakukan kerja sama dengan PT Daruma Adira Pratama terkait quality control dan akses pemasaran produk APD yang diproduksi oleh KUMKM melalui program Karya Nusantara.

Telah ada beberapa KUMKM yang standar produknya sesuai dengan standar kurasi program “Karya Nusantara by Daruma”, antara lain : PT Semesta Raya Bertasbih, Primed Coverall Suit, La Suntu Tastio, PT Sinar Utama Madura, Tewe Tewe Art, Anggrek KCB, dan Batu Beling.

Para KUMKM tersebut akan dipertemukan dengan beberapa buyer potensial seperti holding BUMN bidang farmasi, Lembaga Kemanusiaan, Kementerian Kesehatan, dan BNPB.

Saat ini Program Karya Nusantara telah mendapatkan order sebanyak 15.000 masker non medis yang diproduksi oleh KUMKM terkurasi.

Kementerian Koperasi dan UKM juga menjalin komitmen dengan PT Kimia Farma, Tbk untuk mensuplai masker non medis sebanyak 500 ribu per bulan selama pandemik yang diproduksi oleh KUMKM.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Kesehatan akan mempermudah prosedur pengurusan ijin edar bagi produk alkes dan surat keterangan produk non alkes untuk masker non medis.

 

Sumber : Website Kemenkop dan UKM RI

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *