Minggu , 7 Maret 2021

Launching Kedelai Bersubsidi Untuk Pengrajin Tahu Tempe

Jember, 8 Juli 2013. Krisis kedelai yang terjadi akhir-akhir ini membuat pengrajin tahu tempe kesulitan dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Kenaikan harga yang signifikan berpengaruh pada biaya produksi yang harus mereka keluarkan dan profit yang diperoleh. Upaya kebijakan pemerintah dengan menurunkan bea masuk impor, menjadikan Bulog sebagi pengendali harga dan menetapkan HPP kedelai rupanya belum bisa mengatasi permasalahan yang ada dan harga masih saja belum dapat dikendalikan.

Berlatar belakang hal tersebut Dinas Koperasi UMKM Kabupaten Jember berinisiatif untuk membantu memberikan alternatif solusi bagi permasalahan yang dihadapi pengrajin tahu tempe. Melalui program / kegiatan Pengembangan Jaringan Kerjasama Usaha Koperasi, Dinas Koperasi bekerjasama dengan Koperasi Agrosejahtera sebagai pelaksana program menyediakan kedelai impor Amerika kualitas super no.1 warna kuning sebesar 6 (enam) ton dengan bantuan harga subsidi sebesar 15 % dari harga pasar. Jangka waktu kontrak kerjasama ini berlaku selama 4 bulan terhitung mulai tanggal 30 April s/d 31 Agustus 2013 dengan bantuan dana operasional sebesar Rp. 24.000.000,-.

Senin ( 08/07) kerjasama ini diLaunching di Dinas Koperasi, UMKM Jl. Karimata 115 yang dihadiri oleh Komisi B DPRD, dan 40 undangan pengrajin tahu tempe. Setelah program ini diresmikan oleh Kepala Dinas Koperasi UMKM, para pengrajin yang hadir langsung bisa melakukan pembelian kedelai di tempat yang teknisnya dikelola oleh Koperasi Agrosejahtera.Sedangkan untuk selanjutnya, pengrajin bisa membeli kedelai di kantor Koperasi Agrosejahtera yang beralamatkan di jl. Mastrip Blok P No. 8.

Ketua Koperasi Agrosejahtera, Bambang Hadi Prapto dalam sambutannya mengharapkan kerjasama dengan pengrajin tahu tempe akan terus berlanjut meskipun jangka waktu kerjasama dengan Dinas Koperasi sudah berakhir. “Meskipun nantinya harga kedelai tidak lagi mendapat subsidi dari pemerintah, Koperasi agrosejahtera akan menawarkan harga yang tetap bersaing”, ungkapnya.

Pengrajin yang hadir sangat antusias dengan adanya program ini yaitu adanya perhatian dari pemerintah pada kesulitan yang mereka hadapi. Akan tetapi mereka masih mengeluhkan bahwa masih banyak sekali pengrajin yang berskala kecil dibawa 10 kg yang belum tercatat dan belum dikoordinir dalam program ini

Anang Murwanto, Ketua Komisi B DPRD menilai bahwa pengrajin tahu tempe merupakan pelaku ekonomi penguat industri mikro yang perlu mendapat perhatian. Untuk itu, Komisi B akan mendukung sepenuhnya upaya Pemerintah Daerah untuk memperbesar alokasi program ini agar pengrajin yang belum mendapat perhatian bisa tercover nantinya.

Menurut beliau, program ini akan membantu kelompok pengrajin secara kolektifitas dalam hal pembinaan, penekanan ongkos pembelian dan upaya kelangsungan usaha pengrajin tahu tempe.

Bagikan Ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *